Sepak Bola Gajah Di Indonesia

Kasus Sepak Bola Gajah Di Indonesia

Pada pertandingan babak 8 besar Divisi Utama musim 2014 PSS Sleman memenangkan pertandingan dengan skor 3-2 menghadapai PSIS Semarang yang berlangsung di Sasana Krida Akademi Angkatan Udara, akan tetapi ke lima gol yang tercipta tersebut lahir dari aksi gol bunuh diri bukan hanya itu yang membuat pertandingan janggal bukan karena gol bunuh diri tersebut melainkan sepanjang jalannya pertandingan kedua tim tidak bersemangat untuk menyerang ataupun merebut bola dari lawan.


Kedua tim melakukan hal tersebut diduga karena satu alasan yang sama, yang sama sama dipastikan telah lolos ke babak semifinal, disinyalir tidak mau menang demi menghindari posisi juara Grup N, dimana tim yang menjuarai grup N akan berhadapan dengan Runner Up Grup P yaitu Borneo FC di Semi final, diduga kuat PSS Sleman dan PSIS Semarang sama sama menghindari bertemu Borneo FC dibabak selanjutnya.

Setelah laga tersebut baik media masa maupun jejaring sosial mulai ramai memperbincangkan istilah Sepak Bola Gajah PSS Sleman vs PSIS Semarang sebuah pertandingan yang telah mencederai sportivitas olahraga di Indonesia, Usai laga sebanyak 18 pemain beserta 6 offisial PSIS dijatuhi hukuman larangan beraktivitas di sepak bola profesional Indonesia.

Pelaku Sepak Bola Gajah yang dijatuhi hukuman oleh PSSI tersebut antara lain adalah Saptono, Eli Nasoka, Taufik Hidayat, Andik Rohmat, Franky Mahendra, Sunar Sulaiman, Ronald Fagundez, Julio Alcorse, Vidi Hasiholan, dan Anam Syahrul.

Sementara untuk offisial terdiri atas pelatih Eko Riadi beserta dua orang asistennya yaitu Setiawan dan juga Budi Sucipto.

Kejadian pada pertandingan antara PSS Sleman menghadapi  PSIS Semarang juga tentu mengingatkan kita akan peristiwa serupa yang pernah terjadi dan mencoreng nama Indonesia tepatnya saat pertandingan babak penyisihan Piala Tiger 1998 antara Indonesia menghadapi Thailand.

Sepak Bola Gajah Indonesia vs Thailand

Tim Nasional Indonesia dan juga Thailand yang berada di Grup A dan keduanya telah dipastikan lolos ke Semifinal saling berhadapan pada laga penentuan juara Grup A dimana yang menjadi juara grup akan berhadapan dengan tuan rumah Vietnam (Runner-up Grup B) di Semifinal dan yang menjadi Runner Up akan menghadapai Singapore (Juara Grup B).

Indonesia maupun Thailand rupanya sama-sama tidak mau bertemu dengan Vietnam dan lebih memilih menghadapi Singapore di babak selanjutnya, Vietnam yang tampil menakutkan di babak grup belum lagi mereka berpredikat sebagai tuan rumah dan mendapatkan dukungan dari para supporternya.

Untuk menjadi Juara Grup Thailand cukup bermain imbang dengan Timnas sementara Indonesia harus kalah untuk bisa menjadi Runner Up Grup, hal itu membuat pertandingan berjalan tidak normal, tempo bermain berjalan sangat lambat dan kedua tim seperti tidak bernafsu untuk menang.

Sampai dengan menit ke 86 skor untuk  kedua tim masih berimbang 2-2 setelah itu pemandangan yang aneh mulai terlihat di tengah lapangan, bayangkan saja Pemain Thailand malah memperkuat pertahanan Indonesia ketika pemain Indonesia memainkan bola di kotak penalti sendiri.

Namun pemain Thailand kalah cepat dan Mursyid Effendi dengan sengaja menendang bola ke gawang sendiri pada saat pertandingan tinggal tersisa beberapa menit lagi, saat itu kiper Kurnia Sandy hanya bisa terdiam saat melihat gawangnya bobol dan Indonesia pun akhirnya kalah dengan skor akhir 3-2 dan “berhasil” menuntaskan misi menjadi Runner Up.

Setelah berakhirnya pertandingan FIFA pun tak tinggal diam dan segera melakukan penyelidikan alhasil Mursyid Effendi dilarang bermain seumur hidup di pentas nasional, sementara Timnas Indonesia dan juga Thailand sama-sama di denda sebesar US$ 40 ribu.